Tuesday, November 27, 2012

sang Malaikat sepanjang 414 km

"...Di tengah kegelapan itu aku masih bergelut dengan ketakutan dan keringat serta ketegangan dalam nafas yang terengah-engah karena berlari kesana kemari menghindari pengejaran si zombie, ketika sudah tidak ada jalan lagi untuk berlari dan aku dikelilingi para zombie yang haus darahhh, mungkin sekarang waktunya aku pasrah dan berdoa berharap ada sebuah keajaiban yang dapat menyelamatkanku dalam situasi seperti ini. Dalam kegalauan itu tiba-tiba muncul sebuah cahaya terang dari pojok kanan atas, sesosok malaikat bersayap dengan pakaian serba putih mengibaskan sayapnya ke arah para zombie dan seketikapun itu para zombie terpental. Aku langsung menggapai uluran tangan sang malaikat dan ikut terbang menjauhi kumpulan para zombie yang hanya bisa melongo melihat santapan malamnya terlepas begitu saja, akupun tersenyum dengan bangga sambil melambaikan tangan ke arah para zombie, saking senangnya aku tidak melihat sebuah potongan beton besar dan akupun terbentur dengan keras dan terbangun dari mimpi..."
Hanya sebuah Ilustrasi...hahaha
ahhhh ternyata itu cuman si mimpi *sambil usap-usap kepala yg kejedot*, oke guys pagi ini si guweh mau coba ngereview perjalanan si guweh sewaktu ngelakuin solo #bikepacker nekat menembus jalur berlikunya bandung menuju sawarna, kenapa si guweh bilang nekat, karena perjalanan ini bener-bener dilakuin tanpa persiapan yang matang, alhasil dihari terakhir ngagowes menuju kepulangan ke bandung tercinta tepatnya didaerah cipatat padalarang, pantat udah sangat ampunn dan kayanya udah ngga berbentuk saking udah ngga nyaman lagi menduduki si sadel (istilah buat jok sepeda) dan rantai sepeda udah mulai kering kerontang yang mengakibatkan perputarannya menjadi sedikit tidak normal dan itu membuat kayuhan menjadi sedikit berat (efek tidak bawa pelumas rantai, rantai sering terkena air dan panas matahari jadi sukses buat si rantai dehidrasi dan mengering, untung tidak RIP juga..hahaha).

Sebuah perjalanan itu memang ngga akan pernah telepas dengan yg namanya 'malaikat' atau sebut saja seseorang yg baik hati, tidak sombong, rajin menabung, anti alay, anti israel, anti nyamuk #loh kok *putar-putar kepala yg kejedot, sapa tau ada yg koslet..heu* yah mungkin itu bantuan yg TUHAN berikan ketika kita benar-benar sendiri dalam menempuh sebuah obsesi positif kita dan bantuan itu mungkin datang dari kebaikan-kebaikan kita di masa lalu, kita harus percaya kalau setiap kita melakukan sebuah kebaikan maupun kejahatan, semuanya itu pasti kembali pada kita, jadi mulailah kita menabung sebuah kebaikan walaupun itu kecil sekecil biji sawi...:)

Malam itu tepatnya pukul 11 malem, si guweh sudah lelah dari ujung kaki ampe ujung langitt karena total sudah 12 jam perjalanan si guweh mengayuh pedal c kukut, walopun sudah sangat payah pas di tanjakan gekbrong menuju sukabumi. Sampailah di cibadak sukabumi, tepatnya dirumah teman lama rumahnya c Heikal, teman satu kerjaan dulu waktu di panasia, sebelum akhirnya harus memilih jalan masing-masing karena terkena PHK masal..heu, dan inilah sang malaikat yg pertama M.Heikal, yang baru beristri 1 dan dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu bernama Aya. Alhamd sewaktu nyampe disana langsung dijamu dengan sajian ikan bakarrr yang maknyusss, gimana ngga maknyuss coba, sudah lelah yang mendera jiwa setengah hari harus bergelut gowes dari titik 0 km bandung (titik 0 km bandung berada dijalan asia afrika) dan berakhir di cibadak sukabumi setelah melewati jalur cianjur dan sukabumi kota. Malam itu benar-benar indah dan nyaman bisa merasakan sebuah kepuasaan dan kebanggan tersendiri, setelah nyenyak tidur karena saking lelahnya, pagi itu si guweh langsung mandi dan setelah mandi disuguhi sarapan yang nikmat khas sunda, apalagi kalau bukan nasi hangat, asin, ayam, lalaban dan sambel tentunya sodarah-sodarah..hmmm awal pagi yg menggugah semangat, sebelum berangkat kembali melanjutkan perjalanan menuju desa sawarna.
si Lucu Aya, Putrinya Heikal my old pren...
Pagi itu tepat pukul 10 pagi, si guweh melanjutkan perjalanan dengan c kukut (kukut nama kesayangan bwt sepedah si guweh ^_^) dari cibadak sukabumi menuju pelabuhan ratu sekitar sore sebelum ashar, merasakan kepuasan dulu akhirnya tiba di palabuhan ratu setelah lumayan lelah harus menaklukan tanjakan-tanjakan selama perjalanan menuju pelabuhan ratu, setelah puas bermain-main dengan air asin perjalananpun dilanjut untuk ke desa sawarna, tapi sebelum berangkat mampir dulu di warung nasi, disana bertemu teman ngobrol anggap aja namanya ahmad (lupa lagi namanya), dia seumuran si guweh yang bekerja di kapal ferry dan kontraknya setiap 8 bulan sekali, sehabis 8 bulan otomatis langsung nganggur sampai ada panggilan kerja berikutnya lagi, ahmad asli orang tasikmalaya yang menikah dengan gadis pelabuhan ratu dan tinggal di pelabuhan ratu selama menunggu panggilan kerja sambil kecil-kecilan membuka warung nasi, si ahmadpun ngasih tau hati-hati perjalanan menuju sawarna treknya menanjak dan jarang ada kehidupan, udah mau malam gini, mending tar kalau nemu mesjid langsung bermalam aja, setelah puas ngobrol dengan ahmad dan si guweh dapet perbekalan air minum gratis dari si ahmad..hehe dan si guweh pun langsung pamit dan kembali melanjutkan perjalanan, kebetulan keadaan saat itu terjadi insiden si komo lewat yang menyebabkan jalanan menjadi macet, maklum hari itu pas hari libur lebaran jadi masyarakat disegala penjuru namplok dipelabuhan ratu...
Penampakan c kukut saat di Palabuhan Ratu
Dari pelabuhan ratu perjalanan akhirnya berlanjut menyusuri kawasan pantai disepanjang perjalanan, suasana yang cukup ramai disepanjang jalan walaupun jalan sudah mulai gelap, akhirnya perjalanan si guweh bersama c kukut harus diakhiri pada pukul 7 malam, karena ternyata benar kata c ahmad jalurnya sudah mulai subhanalloh dengan tanjakan-tanjakannya yang lumayan ngena di nafas dan juga suasana yang mulai membuat batas jarak pandang memendek, sebenarnya hal yang ngebuat si guweh untuk langsung cari mesjid itu ketika ditanjakan menuju desa cisolok, si guweh dengan semangat 45 masih mengayuh pedal dengan harapan bisa bergerak menembus batas gravitasi, tapi apa dikata dikemiringan yang lumayan miring buat orang-orang miring dan di sisa tanjakan yang tinggal 20% lagi si guweh harus berhenti karena kaki sudah tidak sanggup untuk menggerakan pedal sepedah dan alhasil karena pengaruh malam yang gelap gulita tanpa penerangan dan mengandalkan lampu sorot yang si guweh bawa, ketika mau menginjakkan kaki ke tanah ternyata si guweh ngga nemu tanah dan 'gudubragggg' si guwehpun terjatuh diantara semak-semak belukar, saking kencengnya, orang-orang yang lagi nongkrong diatas pada berhamburan liatin sebuah panorama dikegelapan ada orang jatuh, mungkin pikir mereka ada motor yang tubrukan tapi ternyata perkiraan mereka NOL besar karena yang jatuh hanya seorang anak kasep dari bandung dengan sepedanya..hahaha..akhirnya si guweh mutusin dan bernazar dalam hati, kalau si guweh nemu mesjid langsung istirahatin, dan alhamd akhirnya si guweh nemu mesjid di desa cisolok, nama mesjidnya mesjid daarussalam. Selepas sholat isya, si guweh pun langsung meminta ijin ama pa haji untuk bermalam di mesjid alhamd TUHAN menurunkan kembali malaikat-NYA lagi yang akhirnya si guweh bisa nyaman tidur dimesjid. Mesjid daarussalam masih dalam proses pembangunan, masih kekurangan dana untuk membangun dan salutnya mereka tidak meminta sumbangan di jalan-jalan, hanya mengandalkan gotong royong warga dan kebaikan para dermawan untuk menyumbang. si guwehpun akhirnya beristirahat agar besok bisa segar bugar melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir, SAWARNAAAA....Selepas sholat shubuh dan mengobrol sebentar sama pa haji, si guweh langsung melanjutkan perjalanan, tepatnya pukul 6 pagi melanjutkan perjalanan untuk menembus jalur dengan tanjakan super. Ditanjakkan pertama langsung disuguhi pemandangan nan indah, terlihat pantai yang indah dari atas setelah melalui desa cisolok...
Pemandangan dari atas tanjakan setelah desa cisolok

Perjalanan semakin lama semakin menyiksa dengan hadirnya sang mentari yang ikut berperan menyerap energi dengan teriknya yang menyengat, tanjakan dan turunan dilalui dengan sepenuh hati karena berharap untuk temukan surga terindah di pantai selatan, surga itu bernama sawarna, sawarna namanya yang sangat indah terdengar ditelinga, saking ingin cepat-cepat menuju kesana, istirahat dulu diwarung sebelum menuju perbatasan provinsi jawa barat dan banten, terlihat antusias anak-anak melihat si guweh dengan gagahnya bersepeda dari bandung menuju desa sawarna banten, dengan ketawa lepas saling lempar canda dengan c kukut jadi objek pembicaraannya..
Keceriaan anak-anak perbatasan
Akhirnya setelah melewati jalan yang berliku sepanjang jalan, tiba juga si guweh menuju surga dunia dalam diri sawarna, kenapa si guweh sebut surga dunia, karena keindahan sawarna yang bak surga berhasil guweh temukan dengan susah payah dan harus mengayuh sepeda lewati tanjakan-tanjakan yang menyesakkan dada dan total 2,5 hari perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju keindahan pantai sawarna...
Detik-detik menuju keindahan surga
Berfose di Tanjung Layar Desa Sawarna

Kibarkan bendera 13 di Tanjung Layar

c kukut mejeng di homestay desa sawarna

Jembatan menuju Lagoon Pari
Haripun mulai senja, setelah bermain-main dipantai dan di tanjung layar saatnya untuk mencari tempat peristirahatan sambil mencari energi buat tubuh. Akhirnya disini si guweh ketemu sama sang malaikat selanjutnya dalam diri kang Mardi, pemilik warung didekat pantai ciantir desa sawarna, si guweh pertamanya memang memilih warung kang mardi untuk menikmati makan malam beserta segelas kopi, dari situ akhirnya terjadi obrolan antara si guweh ama kang mardi, kang mardi benar-benar terkejut kalo si guweh pergi ke sawarna menggunakan sepeda, dan pertanyaan yang keluar dari kang mardi adalah tanjakan habibi, kenapa tanjakan habibi, karena tanjakan habibi merupakan tanjakan terekstream untuk menuju desa sawarna, tanjakan dengan kemiringan yang termiring dan selalu sukses membuat kendaraan harus bekerja keras melewatinya, sontak kang mardi langsung nanya "pas ditanjakan habibi eta di boseh atau dituntun?" tanya kang mardi dengan antusias, dan si guweh pun jawab di gowes kang, mendengar jawaban si guweh kang mardi semakin antusias, akhirnya obrolanpun terus melebar sampai malam benar-benar larut, kang mardi sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk mendirikan warung di sawarna, beliau sebelumnya pernah mengecam pahit manis bekerja di bandung dari penjaga toko sampai bekerja di cafe seafood milik warga desa sawarna juga, kurang lebih 3 tahunan kang mardi merantau di bandung hingga akhirnya ketemu sama sang istri dan memutuskan untuk menetap di desa sawarna, dikampung halamannya sendiri, kang mardi punya satu cita-cita yang belum bisa terwujud, yaitu mendirikan warung seafood sendiri di desa sawarna, tapi belum ada angin segar untuk bisa membuka warung seafood sendiri, yah mudah-mudahan cita-cita kang mardi dapat terwujud..semoga yahh kang..:)
Kang mardi sendiri banyak cerita tentang keindahan desa sawarna, tempat-tempat yang indah di sawarna sampai gua-gua angker disana dan juga tidak lupa kang mardi juga cerita tentang 'mushroom', sebenernya kang mardi sedikit takut juga kalau ada yang nanya soal 'mushroom', takut ketika dia lagi sial yang makan 'mushroom' nya meninggal, pasti dia jadi yang harus tanggung jawab...hadeehhh..udah kang positif ajah biar ngga jadi waswas..tapi memang banyak langganan yang datang kesini hanya untuk merasakan rasanya fly ama mushroom, malahan sebelum kesini mereka udah pada nanya dulu ketersediaan mushroom.
Warung kang mardi di pantai ciantir desa sawarna
Akhirnya obrolanpun berakhir dan si guweh di suruh tidur di saungnya kang mardi karena besok perjalanan masih panjang untuk eksplore lagon pari, goa lalay dan kembali mengayuh menuju bandung, pagipun datang seakan tak mau kalah akan cerita yang akan si guweh lalui, pagi yang cerah, selepas sholat shubuh si guweh menikmati dulu pemandangan pagi itu di pantai ciantir sebelum pamitan ama kang mardi dan istrinya. Nuhun kang mardi dan istri yang sudah bersedia menampung pesepeda pemula yang nekat ingin melihat dunia dari sisi lain..heu, nuhun atas semua ceritanya, penginapan gratisnya hingga si guweh bisa menikmati istirahat yang nyenyak di saung kang mardi, tak lupa si guweh ama kang mardi tukeran no hp kalau suatu saat si guweh datang lagi kemari dan butuh guide untuk menjelajah sisi lain dari desa sawarna, kang mardi siap mengantar..
dan akhirnya si guweh harus meninggalkan pantai ciantir dan meninggalkan sang malaikat-NYA yang telah banyak membantu mengajarkan pelajaran dan warna baru dalam mengarungi hidup..nuhun kang ^_^
c kukut di pantai lagon pari
Perjalanan dilanjut untuk eksplore lagon pari dan goa lalay lalu kembali pulang menuju kota bandung tercinta, perjalanan pulang sama beratnya ketika datang karena trek yang harus dilalui tetap begitu mempesona dihati dengan tanjakan-tanjakan yang menyiksa nafas dan meninggalkan sesak, siang itu semakin terasa sangarnya oleh terik matahari yang semakin menunjukkan taringnya hingga si guwehpun kewalahan dan mencoba beristirahat di warung terdekat dengan sukses menghabiskan satu botol air mineral dan dua gelas minuman jelly drink, waktu sudah dekat sekali ke waktu sholat jum'at dan setelah bertanya pada yang punya warung, akhirnya dikasih petunjuk ke mesjid terdekat yang letaknya tidak jauh dari warung yang si guweh singgahi. Gowes pun berlanjut menuju mesjid dan alhamdulillah tiba dimasjid dengan badan lusuh, kebetulan air dimesjid lagi kering, untung ada yang berbaik hati untuk mengijinkan si guweh mengambil air wudlu dan sedikit melepaskan keringat-keringat. dan perkenalkan orang yang berbaik hati itu adalah pa andi dan ibu maesyaroh, setelah si guweh selesai sholat jumat, langsung saja si guweh disuruh untuk istirahat dulu dan dikasih jamuan makan siang yang begitu nikmat oleh kedua malaikat tak bersayap selanjutnya yang TUHAN berikan. Ibu maesyaroh dan pa andi sendiri mempunyai 3 anak, 1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. anak laki-laki yang pertama sudah menikah dan tinggal didaerah cirebon, anak keduanya perempuan dan baru saja lahiran, kebetulan ada disana karena memang sengaja melahirkan di desa sawarna ketika sudah dapat cuti hamil dari perusahan tempatnya bekerja, anaknya laki-laki dan itu merupakan cucu pertamanya pa andi dan ibu maesyaroh. anak keduanya pa andi berkerja diperusahaan eigerindo di daerah soreang yang kebetulan si guweh tau tentang perusahaan itu, perusahaan pembuat peralatan outdoor dan garment, jadinya ada bahan obrolan..hehe. dan anak ketiganya pa andi dan ibu maesyaroh adl laki-laki dan masih sekolah di smp. keseharian pasangan tersebut hanya tinggal bertiga ama anak bungsunya karena kedua anaknya yang lain sudah mempunyai kehidpuan masing-masing, makanya senang ketika anaknya ada disana beserta cucu pertamanya, tapi jarak beberapa minggu kemudianpun kehidupan akan normal kembali mengarungi hidup di desa sawarna bertiga ama anak bungsunya, ibu maesyaroh sangat senang kedatangan si guweh dan juga merasa terharu melihat si guweh pergi dari bandung ke desa sawarna menggunakan sepeda, katanya sebagai naluri seorang ibu, akan sangat terasa waswas ketika melihat si guweh harus menempuh jarak yang lumayan menggunakan sepeda, bagaimana tidurnya, bagaimana makannya, bagaimana saat dijalan, apakah baik-baik saja dan banyak pertanyaan" yang muncul dari naluri seorang ibu..hadeehhhh membuat si guweh terharu dan teringat si mamah dirumah...heu..(T.T)
Setelah beberapa jam merasakan ada kehangatan keluarga baru, akhirnya si guweh ijin pamit pada ibu maesyaroh untuk melanjutkan perjalanan, dan tak lupa c ibu pun langsung membungkuskan nasi timbel untuk bekal dijalan..makin terharuu..dan makin nangis kencenggg...Ya ALLOH syukur alhamdulillah atas semua nikmat dan karunia-MU serta pertolongan-MU dalam diri para sang malaikat ini yang benar-benar menolong tanpa pamrih, hanya lewat kelembutan hati, beliau mengajarkan arti sebuah cinta kasih. Semoga Engkau selalu memberikan keselamatan dan pertolongan pada mereka semua, agar mereka selalu dalam lindungan-MU..aamiin...
Ibu maesyaroh dan pak andi, sang Malaikat-NYA
Akhirnya perjalanan pulangpun berlanjut, jalur-jalur sebelumnya harus ditempuh kembali untuk bisa mencapai jalan pulang, ketika sebelumnya senang dengan jalur turunan maka saat pulang adalah kebalikannya yaitu berubah jadi tanjakan yang harus dilalui dengan nafas panjang, dan akhirnya tiba di terminal cikembang sukabumi. Malam itu pukul 11 dan badan benar-benar terasa lelahnya, tidak ada tempat lain kecuali mesjid untuk disinggahi dan sialnya mesjidnya terkunci dan si guweh terpaksa harus beristirahat di dinginnya ubin mesjid, yahh mungkinn ini pelajaran lain yang TUHAN berikan dalam perjalanan ini. Alhamd pagipun akhirnya menjelang, dan si guwehpun kembali melanjutkan perjalanan, tetibanya di kota sukabumi si guweh ketemu sesama goweser namanya asep, sempat ngobrol-ngobrol dan ditraktir sarapan bubur oleh asep, alhamd ya ALLOH sang malaikat-MU masih terus mengiringi perjalanan ini.

Bersama asep, goweser sukabumi
Perjalanan semakin dekat menuju kepulangan, jalur demi jalur dilalui dengan semangat yang akhirnya sabtu siang itu si guweh sudah menginjakkan ban sepeda di ciranjang cianjur..wuihhh betapa senangnya, tinggal beberapa lap lagi untuk menuju bandung..heu. Di ciranjang si guweh mampir bersilaturahmi ke kawan lama bernama Irpan, Irpan temen satu gang waktu kuliah dulu, si guweh kalo ke cianjur pasti wajib nyimpang dulu ke rumahnya irpan, di rumah irpan si guweh disambut oleh kedua orang tua irpan dan adiknya, irpan ternyata lagi menjemput calon istri dan keluarganya..wuihhhh berita gembira dan ternyata hari kedatangan si guweh bertepatan dengan syukuran penetapan tanggal pernikahan mereka yang jatoh pada 20 oktober 2012, dan itu tepat dengan keberangkatan si guweh ke singapore..oohhhh tidakk...
ALLOH memang tau apa yang terbaik buat hamba-NYA, si guweh benar" senang karena sebelum menuju kepulangan ke kota bandung, di jamu dulu di rumah irpan dengan makanan yang alhamd 'susuatu' alias istilahnya perbaikan gizi kalau dulu pas zaman kuliah ada nikahan di aula kampus itu namanya perbaikan gizi, karena si guweh ama temen" suka pura" jadi tamu undangan dan memakan semua menu yang ada sampai perut benar" tidak bisa menampung...hahaha *sambil bayangin waktu itu* ngakakk..
Syukuran penetapan tanggal pernikahan
dan hari itupun si guweh memutuskan untuk bermalam di rumahnya irpan sambil reunian mengenang masa lalu, ternyata sobat si guweh irpan dapet seorang guru sd di cirata saguling purwakarta, alhamd senengnya anak" geehue19 satu demi satu berguguran jadi single, teruss guwehh kapannn *tanya ama cermin*
Minggu pagi akhirnya si guweh pamitan ama irpan dan keluarga untuk meneruskan perjalanan menuju kota bandung, dan seperti biasa ibu irpan selalu nyuruh bawa bekel, alhasil tas yang tadinya udah mengempis jadi penuh tak karuan dengan makanan dan minuman yg disuruh dibawa buat bekal perjalanan..hadeehh jadi ngga enak, nuhuunnn pisan sobat dan keluarga udah menjamu dan ngerepotin ngasih perbekalan, dan mungkin ini sang malaikat terakhir sepanjang jalan 414 km. Semoga ALLOH selalu senantiasa mempertemukan hamba-NYA dengan sang malaikat yang selalu mengajarkan apa artinya kebaikan tanpa pamrih tanpa harus memilih, semuanya ikhlas dari hati dan tak pernah ada rasa untuk ingin dibalas..
Akhirnya tanjakan cipatatpun terlewati dan si guweh melenggang melewati padalaran sampai tiba di titik bandung 0 km..Alhamd Ya ALLOH sudah dikasih keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan ini, lewat sepeda hamba yang tidak dikasih masalah berarti dan lewat tangan-tangan MU melalui kebaikan tanpa pamrih sang Malaikat-MU yg menemani hamba sepanjang perjalanan 414 km...Semoga hamba selalu menyadari bahwa hidup ini akan sangat indah dengan kebaikan dan kerendahan hati kita untuk selalu peka pada lingkungan sekitar sehingga kita sadar akan indahnya berbagi..^_^
Kepuasan mencapai titik 0 km
 TUHAN...
Pagi itu ketika mentari mulai bersinar..
Memberi sebuah kehidupan pada dunia..
Dengan cahayanya yg menyejukkan setiap makhluk..
Walau tanpa disadari oleh semua pihak..

 TUHAN
Setiap pagi mentari tak pernah lelah..
Untuk menyinari bumi-MU yg megah..
Seperti para malaikat-MU
yg meneteskan berjuta kebaikan..

TUHAN...
Memang hamba tak pernah sempat membalas semua kebaikannya
Tapi do'a hamba selalu tak terbatas untuknya..
Semoga Engkau selalu lindungi mereka..
di setiap kehidupan yg mereka lalui tanpa mengenal jasa..

#eLjourney
solo #bikepacker

No comments:

Post a Comment